
Lukisan dengan figur-figur perempuan yang dilukiskan diatas bidang kanvas memuat representasi tokoh perempuan. Melalui tokoh-tokoh perempuan yang dikenalnya. Natasha Laksmana menjelajah visual melukiskan apa yang diketahuinya tentang figur perempuan yang dikenalnya. Mulai figur perempuan zaman Yunani, Hera, hingga perempuan masa kini yang memberi pengetahuan tentang masyarakat.
Dorongan melukis tentang figur-figur tersebut bukan berarti tanpa konsep. Tetapi bagaimana memberi rekontruksi terhadap karakter yang ada dari figur tersebut dalam kehidupan masa kini. Natasha mencoba mengenal ketokohan peremuan yang dilukisnya. Melalui bentuk visual serta kedalaman karakter dari foto atau gambar yang ditemukannya. Natasha berkehendak menggugah kesdaran tentang perempuan masa lalu hingga masa kini tentang keberadaan perempuan melalui perjuangannya tanpa henti.
Secara tematik hal ini merupakan kehendak radikal untuk mengulas bagaimana foto menjadi monumen kesadaran dalam ruang dan arti dari kepanjangan nilai perjuangan hidup perempuan. Sebab kesadaran tentang tata nilai hidup perempuan tidak hanya pada kegiatan keseharian. Tetapi juga pada visi yang dibawa untuk menegakan tata nilai keluarga, lingkungan sekeliling dan masyarakat.
Melalui lukisan dengan latar belakang emas yang dilukiskan. Natasha mencoba memberi arti bahwa ketokohan perepuan yang dimanifestasikan dari visi hidup mereka perlu dikenang. Bentuk-bentuk kegiatan akan muncul sendiri dalam batas kesadaran bahwa representasi perempuan dalam kehidupan sosial mempunyai makna yang dalam dan berpengaruh luas. Itulah yang dapat diperhatikan dari karya lukis dalam bentuk potrait Natasha ini.
Potrait yang dilukiskannya menggunakan warna hitam untuk membuat wajah para tokoh memberi kesan bahwa waktu yang berlangsung, dulu ketika tokoh ada, kini ketika tertinggal visinya tetap bertahan dalam kenangan yang tidak terbantahkan. Begitulah sekiranya gambaran Natasha menguak tokoh-tokoh perempuan dalam lukisannya. Sehingga representasi figur itu menjadi ketokohan perempuan yang perlu dikenang. Bukan ditinggalkan menjadi kenang-kenangan. ***

