Categories Blog

Sejarah Kapal Yang Tidak Tenggelam

Kedatangan VOC ke Nusantara kemudian mengubah esensi fungsi kapal dari medium perjumpaan dan pertukaran menjadi alat ekspansi imperium untuk memonopoli jalur laut, mengontrol distribusi rempah, bahkan memaksakan perjanjian dagang. Hal ini, ditambah politik dalam negeri di masa-masa berikutnya, telah membuat kapal kehilangan posisi simboliknya sebagai identitas bangsa. Lebih dari itu, kedatangan VOC yang membuka pintu penjajahan di Indonesia memiliki dampak sosial dan politik jangka panjang yang relevan sampai hari ini.

Vincent Ruijters dalam proyek ini menciptakan ilusi kapal yang tampak melayang, melalui sebuah instalasi tekstil berskala ruang (site-specific). Kapal tersebut adalah replikasi dari model kapal Amsterdam, yang dibangun pada tahun 1748, dan tenggelam dalam pelayaran pertamanya menuju Batavia (sekarang Jakarta). Kapal ini memiliki dimensi sejarah berlapis yang kontradiktif—dirayakan dan dikecam.

Dirayakan dalam narasi kejayaan Belanda dan Jepang, tetapi dikecam sebagai ikon kejahatan eksploitatif yang mengawali tiga setengah abad penjajahan Indonesia. Bahkan, setelahnya, dan setelahnya lagi. Kontradiksi ini oleh Vincent diartikulasikan melalui pola warna kapal. Di Museum Bahari Jakarta, Jalan Pasar Ikan Nomor 1. Penjaringan, Jakarta Utara, kapal dibuat berwarna merah di bagian depan dan berwarna emas di bagian dalam, menandai penderitaan yang eksplisit dan kekayaan yang dikuras. Pameran di Museum Bahari akan berlangsung 7 Februari hingga 7 April 2026.

Pameran ini telah diselenggarakan di Jepang pada tahun 2025, dan akan berlanjut di Belanda. Waktu penyelenggaraan pameran di Jepang dan Indonesia diselaraskan oleh Hirado Dutch Trading Post dan Museum Bahari. Presentasi di Hirado Dutch Trading Post berlangsung dalam konteks peringatan 400 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Belanda, sebuah relasi yang bermula di Hirado pada tahun 1609. Pameran di Jakarta ditempatkan menjelang peringatan 500 tahun Jakarta (1527–2027), sebuah momentum penting untuk memicu peningkatan refleksi publik dan institusional terhadap sejarah kolonial kota ini. Kedua institusi secara sadar menempatkan Crimson Gilt dalam kerangka diplomatik dan historis yang lebih luas, menegaskan relevansi proyek tersebut dalam dinamika pertukaran budaya internasional yang terus berlangsung.

Bagi Indonesia, dulu, kapal adalah bagian dari identitas. Kapal sejak lama menghubungkan kerajaan-kerajaan di Nusantara, digunakan sebagai medium pertukaran gagasan antar-pulau. . Kedatangan VOC ke Nusantara kemudian mengubah esensi fungsi kapal dari medium perjumpaan dan pertukaran menjadi alat ekspansi imperium untuk memonopoli jalur laut, mengontrol distribusi rempah, bahkan memaksakan perjanjian dagang. Hal ini, ditambah politik dalam negeri di masa-masa berikutnya, telah membuat kapal kehilangan posisi simboliknya sebagai identitas bangsa. Lebih dari itu, kedatangan VOC yang membuka pintu penjajahan di Indonesia memiliki dampak sosial dan politik jangka panjang yang relevan sampai hari ini.***

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *