
Melihat pameran patung layaknya melihat perkembangan material patung hari ini. Patung yang dulu patung yang selalu berdiri ditengah ruang menggunakan fondasi dari kotak kayu atau multiplek. Secara fungsional kotak memanjang ke atas ini sebagai dasar pajang patung. Material patung yang digunakan diatas kotak, ada kemungkinan cetak, resin atau cor besi. Ukuran terbatas dibawah 50 cm, mungkin, inilah yang membutuhkan penyangga, kotak yang dijadikan fondasi untuk membuat patung tinggi letaknya.
Hal itu ditemukan pada perkembangan seni patung pada awal kemunculannya. Sehingga banyak pameran-pameran patung membutuhkan penyangga dari kotak tersebut. Kini patung tidak lagi membutuhkan penyangga dengan ketinggian seperti kotak patung itu. Tetapi bagaimana membuat patung menyesuaikan ukuran dengan kondisi ruangan yang telah ditentukan luas dan lebarnya.
Patung dapat diletakan dan berdiri tanpa kotak penyangga atau pustek, patung dapat menempel di dinding. Patung bahkan dapat digantung melayang. Sesuai dengan gagasan pematung yang hendak disampaikan dalam karyanya. Pameran patung berjudul Paraliyan, journey sculpture exhibition #4, berlangsung tanggal 24 Oktober hingga 2 November 2025 bertempat di Jogja Gallery, Jl Pekapalan Utara, Yogyakarta.
Seniman yang menjadi peserta 32 seniman patung. terbagi menjadi 5 seniman undangan yang seluruhnya perempuan, dan 6 pematung muda. Tampilan pameran ini menunjukan progresifitas bagaimana pameran patung yang ditampilkan secar berkala hingga mencapai seri 4 ini memperlihatkan antusiasme seniman patung mewakili generasinya. Selain itu dapat dilihat perkembangan material seni patung dalam pemeran ini.
“Berbagai material patung hari ini berkembang pesat hingga tidak memperlihatkan lagi mana patung yang harus dibuat untuk ketahanan yang lama atau nilai awetnya bahan, pokonya bebas dalam memakai material”,pungkas Ambrosius Edi Priyanto dalam pesan pendeknya menanggapi pertanyaan penulis.
Selain pameran juga akan diadakan bincang seni berjudul Pematung Perempuan Lintas Zaman, dengan narasumber: Lenny Ratnasari Weichert, pematung dan Karen Hardini, penulis dan peneliti buku KRTYA, profil pematung Yogyakarta I serta moderator Ananta D Rahayu. Bincang akan dilaksanakan Hari Minggu, tanggal 26 Oktober 2025, Pukul 15.00 -17.00, bertempat di Jogja Gallery. ***

