Categories Blog

Pameran Sebagai Alternatif Ruang Seni

Konteks kerja Dewan Kesenian Jakarta selalu melakukan advokasi bagi teman-teman seniman yang berpameran di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bahkan menjadi program lanjutan dari program pameran. Maka kesamaan visi dan organisasi perlu penekanan tersendiri. Melalui pengelolaan di TIM, yang sebelumnya dilakukan Bambang Subekti, telah meletakan visi artistik yang kuat atas kerja-kerja seniman dibawah perkumpulan seniman seperti Peruja (Pelukis Jakarta Raya) untuk pameran.

“Kerja artistik bersanding dengan Pusat Kesenian Jakarta (PKJ-TIM) sebagai organisasi atau lembaga pengelola ruang seni, hari ini hanya mendapat anggaran flat. Sehingga pendanaan tidak mempunyai kekuatan lebih pada sistem kerjanya” ,ungkap Aidil Usman dalam pengantar pembuka diskusi.

Diskusi yang bertema dari Pop up ke Permanen: Apakah Ruang Alternatif masih Mungkindi Tengah Intitusi Yang Teratur? Narasumber diskusi : Firman Lie, Dosen Institut Kesenian Jakarta, Tubagus Andre Sukmana, mantan Kepala Galeri Nasional dan Bambang Prihadi dari Dewan Kesenian Jakarta, serta Aidil Usman sebagai moderator. Pelaksanaan Tanggal 30 November 2025 pada jam 15.00 hingga 17.00 wib, bertempat di Gedung Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kegiatan diskusi ini bagian dari pameran Paradocs#2 :Run WIld penyelenggaraannya dilakukan oleh Peruja (pelukis Jakarta Raya) dan akademisi Institut Kesenian Jakarta. Menurut Tubagus Andre, pentingnya Lembaga Kebudayaan Negara seperti Museum Nasional dan Galeri Nasional sebagai organisasi permanen, menjadi strategis. Bisa dijadikan pendampingan bagi event-event pameran yang lebih besar dan mempunyai wacana luas terhadap seni rupa. Bahkan lintas wilayah atau lintas negara. “Begitulah pentingnya lembaga permanen dalam suatu negara mengakomodir kreativitas warganya, warga seniman”,ujar Tubagus Andre, mantan Kepala Galeri Nasional.

Sedangkan Firman Lie sebagai kurator pameran Paradocs#2 mengungkapkan bahwa kebutuhan ruang-ruang alternatif sangat dibutuhkan untuk mengakomodir kerja kreatif seniman. Perkembangan seni telah melampaui ruang-ruang yang ada. Dibutuhkan ruang alternatif di setiap wilayah yang mempunyai tempat atau akses untuk kerja seniman. Baik itu rumah-rumah, studio seniman atau ruang terbuka yang dapat digunakan untuk mengakomodir kreativitas seni.

“Kolaborasi, ruang alternatif, tehnik penciptaan. Perlu tempat untuk menampung keliaran yang di akomodir, setiap kolaborator mempunyai pendapat masing masing. Terutama seniman, komunitas punya kerapuhan di kooptasi, kesadaran ruang alternatif bagi setiap seniman mempunyai gayanya tersendiri” ,ungkap Firman Lie.

Secara sejarah ruang seni semacam Taman Ismail Marzuki keberadaannya hasil dari turun tangan pemerintah. Ali Sadikin, sebagai gubernur propinsi DKI Jakarta turun langsung membuat ruang-ruang seni Taman Ismail Marzuki menjadi hidup. Bahkan banyak kunjungan seniman di tahun-tahun awal berdirinya TIM. Hal ini menyebabkan kehidupan seniman di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ-TIM)menjadi hidup, penuh kreativitas dan berkembang. Demikian menurut Bambang Prihadi, anggota Dewan Kesenian Jakarta.

“Tapi kini TIM sebagai pusat kesenian, sunyi kreativitas. Dewan Kesenian tidak lagi bisa mengelola jadwal acara, dan tidak mengetahui regulasi tata kelola TIM hendak dibawa kemana. 2024 -2025 masa stagnasi komunikasi antara Dewan Kesenian Jakarta dan Gubernur DKI Jakarta harus diakhiri, sehingga kebijakan tentang pengelolaan TIM mendapatkan regulasi yang jelas” ,tandas Bambang Prihadi.***

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *