Categories Blog

Absurditas Narasi Sejarah Dalam Novel

Review Buku: 8 Sahabat, Cinta dan Tana Air.
Ide cerita: Prabowo Subianto
Penulis: Jaya Tamalaki , Penerbit Nyala, Yogyakarta. @2025

Mengunggah kisah-kisah dalam sejarah memang menghanyutkan. Banyak cerita yang dapat dikupas hingga detail. Tetapi rentan akan kesalahan ketika sumber cerita tidak valid, sehingga unggahan atau penulisan menjadi berbelok arah atau tidak ada kesesuaian dengan data yang sudah ada. Bagaimana mendapatkan kesesuaian serta kesepadanan dan membuat ketertarikan pembaca menjadi sentral dalam membaca kisah-kisah tersebut.

Perlu sudut pandang cerita yang menarik dan membuat deformasi cerita yang fleksbel dengan akurasi cerita atau kisah pada umumnya. Terutama pada detail cerita. Novel 8 Sahabat, Cinta dan Tanah Air ini cukup unik kisahnya. Penulis mengawali dengan perang dunia yang terjadi di Kanada, Hiroshima dan berakhir secara detail mengisahkan perang di Surabaya. Reka cerita cukup detil tetapi ada hal yang unik dalam penceritaan.

Munculnya nama-nama dalam cerita ini ketika sekelompok orang berkumpul pada teras rumah. ‘Kediaman Jarot. Secara bersamaan, di teras rumah Jawa, Jarot, Mustopo (37), Abdul Azis (25) dan Bung Jarot (35) sedang berbicara dengan Hanabi Tambalaki (27, Ongen Paparangan (25), Gumber Bowo (24), Pang Urai (26), Unan Ramelan (23) dan Sabar Panjaitan(25) Bung Topo menganjurkan dengan nada resah’. Hal 22-23.

Nama-nama dibelakangnya mempunyai angka, jika dalam jurnalistik hal ini menandakan usia yang punya nama, tetapi dalam cerita fiksi ini entah angka itu fungsinya apa. Sebab pada bagian lain tidak ada subyek atau tokoh dengan angka dibelakangnya. Mungkinkah, ini merupakan kesaksian sang pengarang terhadap situasai di kediaman Jarot saat itu? Absurditas inilah yang menjadikan kisah peperangan ini menjadi unik.

Pesan dalam penceritaan ini juga cukup tajam dan filosofis melalui tulisan yang ditinggalkan dalam pesan yang dilakukan Gen 6 , Gen adalah nama kelompok anak-anak yang ikut ebrjuang pada masa itu, demikian kisahnya, mereka berkumpul membentuk kolektif yang bekerja berdasarkan usia. Hal ini membuktikan eksistensi anak-anak membantu perjuangan sangat kentara. Seperti yang tertulis di halaman 39:

“Perjuangan kemerdekaan adalah usaha kolektif, untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang yang hidup di dalamnya”. Dibawah slogan itu, satu penanda coretan tertulis “GEN-6”.***

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *