
Pengetahuan tentang warna berpengaruh terhadap lukisan. Sehingga pembahasan lukisan berkembang pesat penuh wacana dengan warna-warna yang berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan warna itu dikembangkan melalui percampuran warna di studio oleh senimannya sendiri.
Bukankah warna menjadi penting? Setelah akhir terbentuknya lukisan, inilah wicara salah satu kedalaman lukisan yang terpenting hingga kini. Berbagai warna yang melumuri seluruh bidang gambar membentuk kehendak sang seniman sehingga dilihat secara komprehensif wujud karya akan terlihat bagaimana pemikiran seniman dalam menorehkan warna dalam penciptaan lukisannya.
Pameran lukisan berjudul Enigma of Color memperlihatkan bagaimana keberagaman pemakaian warna menjadi tulang punggung karya lukis. Pameran yang dilaksanakan pada tanggal 8-16 Juni 2025 bertempat di Balai Budaya Jakarta, Jl Theresia 47 Menteng, Jakarta ini diikuti sekitar 20 seniman lebih ini menjadikan karya lukis berbasis aquarelle memperlihatkan ketajamannya dalam pemakaian warna.
Pameran Enigma of Color memberi kejutan pada transisi bagaimana warna itu digunakan, dicampurkan dan ditorehkan pada medium kertas. Sehingga karya-karya yang menunjukan representasi semua itu terlihat melalui berbagai percampuran warna. Pameran dengan peserta: Agus Budiyanto | Aviliani | Baskoro Sardadi | Chesna Anwar | Darmilia Saliawati Devayanti | Devayanti Wulaningtyas | Dian Fitrasari | Didit Maya Paksi I Dumasi Marisina I Magdalena Samosir | Dyah Prastyorini | Enda Ginting Ernani Hastuti | Gitra Kiranawati Prawirohardjo | Hedy Lapian | Michellina Triwardhani I Nicolette La ‘O | Niken Vijayanti | Regina Busono | Sri Wahyuni | Susy Liestiowaty Syiska Diranti Ventia | Tianty Trisna Dewi | Umi Haksami | Vasundara Sur Venny Jokowidjaja | Vera Eve Lim | Yana Daloe | Yulian Sodri.
Melalui pameran ini warna yang ada dalam lukisan menjadi hal yang mendasar, yang harus dipelihara, untuk mengenal warna dengan berbagai campuran warna pada kerja mencari warna berikutnya. Menuangkan warna dengan berbatas rasa, mungkin menjadi pengetahuan juga, secara pragmatis memberi arah dan kehendak pada karya lukis yang hendak diciptakan.
Seperti konsep salah satu seniman dalam pameran ini. “Aku melukis bukan merekam apa yang aku lihat tapi menuangkan yang aku rasakan. Aku menangkap bunyi tidak dengan telinga tapi lebih kepada rasa” ,ungkap Agus Budiyanto dalam konsep berkaryanya, mempertajam penggunaan warna yang selalu dilakukannya.***

