Categories Blog

Membuka Tabir Estetika

Berbagai bentuk patung terpajang pada ruang pamer membutuhkan interpretasi yang yang luas. Supaya bahasa visual dari bentuk-bentuk itu dapat dimenerti secara terbuka oleh publik. Perlu dilakukannya pajang dan dialog terhadap bentuk menjadikan interaksi serta pengertian seniman terhadap karya tersampaikan dalam pengantar karya mereka. Itulah sebetulanya yang dibutuhkan ketika abstraksi-abstraksi patung mendasari karya seniman.

Pola mengemas pengalaman, emosi, dan kritik dalam bentuk-bentuk yang tak langsung terbaca, dilakukan oleh Abdul J. Nugroho @wockman_wacky , Ajeng Pratiwi, @ajenggrsm dan Febri Anugerah @febrianugerah —tiga seniman dalam pameran Meretas Enkripsi, karya berupa patung dan instalasi.

Pameran yang dibuka oleh @rainrosidi dengan sambutan dari galeri oleh Naufal Samudra. Sedangkan pameran dibuka tanggal 30 Agustus 2025, akan berlangsung hingga 28 September 2025. Tempat pameran Sangkasa galeri, Desa Jagan, RT 13/ RW Padukuhan, Gedongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Jogjakarta.

Menurut Ahmad Fiqhi, kurator pameran, istilah meretas enkripsi diambil dari dunia digital, karya-karya dalam pameran ini merupakan enkripsi para seniman secara gagasan yang telah mereka lalui dalam pengalaman hidup, pemikiran dan proses dalam studio. Melalui bentuk yang tersaji, patung dan seni instalasi berwujud tiga dimensi, seniman menyisipkan simbol, narasi dan refleksi personal, yang harus ditafsir ulang publik. Sebab setiap karya adalah sistem terbuka menunggu untuk diretas gagasannya.

“Meretas enkripsi dapat dimaknai dengan menembus sesuatu dengan sengaja agar mudah dibaca pada ruang yang terkunci yang dilapisi sandi atau dilindungi sistem” ,ungkap Ahmad Fiqhi, dalam kuratorialnya.

Perbandingan antar ruang memang diperlukan ketika membuka tabir ruang-ruang tersebut. Menurut Lenny Ratnasari Weichert, founder Sangkasa, Seni tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari, termasuk dari apa yang terjadi secara politik. Mungkin karya-karya di sini atau dimana pun bisa memberi kita cara lain untuk membaca situasi – bicara lantang dengan bahasa visual itulah cara seniman untuk perduli pada kekuasaan.

“Kita tahu di luar ruang ini banyak hal sedang bergerak dan bergolak. Tapi ruang ini kita pakai untuk tetap membuka percakapan yang lain: percakapan lewat seni” ,ujar Lenny, ditengah pembukaan pameran.***

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *