Categories Blog

Dialektika Risangdaru

Sumber foto: katalog pameran

Berbagai eksplorasi terhadap material menghasilkan bentuk-bentuk yang, kadang, sulit diduga. Keragaman material, sistem produksi dan konsepsi mendasar terhadap pengolahan material sangat menentukan. Bagaimana material berhasil dieksplorasi dalam bentuk yang dikontrol oleh material lain. Hal ini merupakan sistem produksi yang paling menentukan. Selain itu dibutuhkan tuntutan untuk mengendalikan diri terhadap material yang hendak diwujudkan menjadi karya seni.

Sensitivitas terhadap material, pendekatan yang sublim terhadap bahan pendukung, serta ketrampilan dalam membuat produksi mempunyai peran yang menentukan. Apa yang dilakukan oleh Risangdaru, melalui karya-karya dengan bahan keramik, pewarna alami, serta membentuk keramik menjadi perwujudan karya yang mempunyai kesesuaina konsep. Perlu perhatian mendalam, detail dan cermat mengendalikan alat.

Karya-karya Risangdaru berbahan keramik yang dijadikan medium bingkai dari karya visualnya dapat dilihat pada pameran I am not one but many bertempat di Studio 22NYA, Grand Wijaya Block G9 Level 2, pameran berlangsung tanggal 26 Oktober hingga 14 November 2025. Pengalaman memproduksi karya dengan material ceramics dapat dilihat pada pameran ini.

Material yang mendukung sistem produksi menjadi fokus utama ketika pendekatan produksi sebagai pertimbangan untuk emenegendalikan secara keseluruhan. Melalui material ceramic and ink on paper, yang ditemukan dalam karya Risangdaru, seniman yang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, pada pameran kali ini. Perpaduan material secara dialektik membutuhkan kcermatan dalam mengatur komposisi. Baik komposisi visual atau komposisi yang akan menjadikan akibat estetis karya nampak tajam dan membawa sudut pandang tersendiri.

Menurut Zarani dalam tuisan pengantar pameran, sebagian besar praktik Risangdaru didasarkan pada tinta, medium yang mengalir dan menggenang tak terkendali, menggemakan volatilitas perasaan. Likuiditasnya bergerak antara niat dan kebetulan, mencerminkan emosi itu sendiri—intens namun sulit dipahami. Ia berkarya dengan tinta, pigmen, dan glasir sebagai kolaborator, alih-alih alat; warna menyebar dan ternoda sebanyak yang diarahkan, sementara dalam keramik, pembakaran menghasilkan permukaan dan corak yang tak terduga.

Penggunaan material produksi layaknya dialektika yang mempertajam hadirnya karya seni Risangdaru. Seperti yang diungkapkan Zarani Risjad, dalam catatan pameran ini: “Subjek kontemporer harus terus berlanjut, mengunggah, memproduksi, memelihara, karena kebutuhan sekaligus keyakinan”. ***

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *