Categories Blog

Proyeksi Mengenang Toeti Heraty

Suasana ruang pamer ketika pengunjung melihat karya yang terpajang

Keluasan koleksi karya seni memberi peluang tersendiri untuk memberi makna definitif tentang karya-karya seni. Membingkai koleksi Toeti Heraty dengan tema yang diambil dari judul salah satu buku kumpulan puisinya, Mimpi-mimpi dan Pretensi. Kembali pelajaran bagaimana karya-karya koleksinya demikian banyak dan harus menjadi pelajaran generasi beikutnya. Sejauh mana karya itu menginspirasi dan menjadi daya pukau estetika bagi generasi setelahnya.

Melalui karya-karya seni koleksinya, Toeti Heraty memproyeksikan kebebasannya sebagai cendekiawan perempuan. Menyingkap Pretensi mengandaikan langkah selanjutnya pada hari ini; suatu masa yang konon telah melek pada isu gender yang diperjuangkan oleh Toeti Heraty. Pameran ini mencoba mengingat kembali Toety Herati sebagai seorang kolektor perempuan dengan koleksi karya-karyanya.

Menurut kuratorial mengartikan “Mimpi” dalam judul di atas kami tafsirkan sebagai kesetaraan dalam kebebasan berekspresi, sementara “pretensi” adalah realitas bahwa kaum perempuan pada masa itu masih memiliki keterbatasan dalam banyak hal dan harus berpretensi. Menyingkap Pretensi mengandaikan langkah selanjutnya pada hari ini.

Pameran dengan kurator Bagus Purwoadi dan Nirwan Sambudi, mengikutsertakan tiga seniman ,yakni: Aisha Kastolan, Nadhief Ashr dan Ruth A Kaligis. Pameran akan berlangsung dari tanggal 27 November hingga 7 Desember 2025, bertempat di Cemara 6 Galeri Toeti Heraty Museum, Jl HOS Cokroaminoto no 9-11, Jakarta. Pada pameran ini ikut dipajang satu koleksi lukisan Toeti Heraty karya Soeparto berjudul wanita dan angsa, 1982, 115 x104 cm, Cat akrilik di atas kanvas.

Pameran Kemilau Toeti Heraty 92 Tahun “Menyingkap Pretensi” mengambil dari salah satu buku yang ditulis Toeti Heraty berjudul Mimpi dan Pretensi, diterbitkan Balai Pustaka 1983. ” ia hadir dalam bentuk bentuk lain, seperti keseragaman ekspresi dan isu di peristiwa-peristiwa seni rupa, baik yang berbasis wacana atau berbasis pasar” ,ungkap Bagus Purwoadi dan Nirwan Sambudi, kurator pameran dalam catatan kurasinya.***

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *